Minggu, 02 Mei 2010

TUGAS RISET AKUNTANSI

ANALISIS SISTEM PENERIMAAN DAN PENGELUARAN KAS PADA PT.XXX

Disusun Oleh :

NAMA : Abner Hendrik Aquardo
NPM : 27208015
Jurusan/Jenjang : Akuntansi/ S1


Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat
Dalam Mencapai Gelar Sarjana Strata Satu (S1)



DEPOK
2010


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
PT.xxx merupakan perusahaan yang bergerak di bidang kontraktor yang besarnya penerimaan berasal dari penjualan jasa elektrikal dan mekanikal. Dalam perusahaan tersebut, kas merupakan komponen yang sangat penting dalam kemajuan dan berjalannya kegiatan usaha perusahaan. Untuk itu, perusahaan harus mempunyai persediaan kas yang cukup.
Mempunyai kas yang tidak cukup dalam perusahaan dapat membahayakan. Sebab ada kemungkinan tidak dapat memenuhi kewajiban-kewajiban yang telah jatuh tempo. Tetapi mempunyai terlalu banyak kas juga tidak sehat. Uang kas yang menganggur tidak akan menghasilkan apa-apa (Soemarso S.R, 1999:324).
Seperti halnya pada perusahaan-perusahaan yang lain, PT xxx harus mempunyai kas yang cukup sehingga kegiatan operasional perusahaan tetap berjalan lancar. Oleh karena itu manajemen perusahaan harus melakukan perencanaan terhadap kas. Kas dilihat dari sifatnya merupakan aktiva yang paling lancar dan hampir setiap transaksi dengan pihak luar selalu mempengaruhi kas. Kas merupakan komponen penting dalam kelancaran jalannya operasional perusahaan. Karena sifat kas yang likuid, maka kas mudah digelapkan sehingga diperlukan pengendalian intern terhadap kas dengan memisahkan fungsi penyimpanan, pelaksanaan, dan pencatatan. Selain itu juga dilaksanakan pengawasan yang ketat terhadap fungsi-fungsi penerimaan serta pengeluaran kas dan pencatatan.
Menurut Depdikbud dalam buku Sistem Akuntansi (1991:47) pengendalian intern yang baik sebuah perusahaan, penggunaan nomor urut tercetak pada formulir seperti bukti kas keluar, cek, memo kredit, faktur penjualan dan memo debit merupakan elemen pengawasan intern terhadap transaksi yang bersangkutan dengan formulir tersebut.
Dalam penerimaan dan pengeluaran kas diperlukan adanya prosedur yang baik yang nantinya akan sesuai dengan kebijakan manajemen yang telah ditetapkan sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin baik prosedur penerimaan dan pengeluaran kas akan semakin dapat dipercaya besarnya kas pada laporan keuangan tersebut. Lebih dari itu kas juga menggambarkan tingkat likuiditas artinya semakin besar kas, maka semakin likuid (Al. Yusuf, 1985:3). Berdasarkan sistem pengendalian intern yang baik, sistem penerimaan kas dari piutang harus menjamin diterimanya kas dari debitur oleh perusahaan, bukan oleh karyawan yang tidak berhak menerimanya. Untuk menjamin diterimanya kas oleh perusahaan, sistem penerimaan kas dari piutang mengharuskan debitur melakukan pembayaran dengan cek atau dengan pemindahbukuan melalui rekening bank (giro bilyet). Jika perusahaan hanya menerima kas dalam bentuk cek dari debitur, yang ceknya atas nama perusahaan (bukan atas unjuk), akan menjamin kas yang diterima oleh perusahaan masuk ke rekening giro bank perusahaan. Pemindahbukuan juga akan memberikan jaminan penerimaan kas masuk ke rekening giro perusahaan (Mulyadi, 2001:482). Di dalam sistem akuntansi pengeluaran kas, digunakannya cek atas nama akan diterima oleh pihak yang namanya tertulis dalam formulir cek. Dengan demikian pengeluaran dengan cek menjamin diterimanya cek tersebut oleh pihak yang dimaksud oleh pembayar (Mulyadi, 2001:508).
Sistem akuntansi yang diterapkan pada PT xxx tentang penerimaan dan pengeluaran kas pada dasarnya sudah baik. Namun masih ada kelemahan yang masih harus diperbaiki yaitu penerimaan dari debitur yang tidak semuanya menggunakan cek. Dalam melakukan penagihan PT. xxx menerima cek maupun uang tunai dari debitur. Penerimaan kas pada PT. xxx dilakukan melalui penagihan secara langsung oleh perusahaan yang penerimaannya berupa cek serta uang tunai, dan melalui transfer bank. Mestinya penerimaan dari debitur untuk pelunasan hutang mereka menggunakan cek atau melalui transfer bank. Hal ini dimaksudkan untuk pengamanan uang kas agar tidak jatuh ke tangan penagih. Selain itu masih ada kelemahan lagi yaitu penggunaan dokumen bukti kas masuk dan bukti kas keluar yang tidak bernomor urut tercetak.
Melihat kenyataan yang ada belum sesuai dengan teori maka penulis memandang perlu untuk mengkaji kembali sistem akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas pada PT. xxx untuk mengemukakan masalah tersebut dalam pembuatan Skripsi dengan judul.
“SISTEM AKUNTANSI PENERIMAAN DAN PENGELUARAN KAS PADA PT.xxx”.






1.2 PERUMUSAN MASALAH
Agar penulisan skripsi ini tidak menyimpang jauh dari judul yang diambil, maka penulis membatasi masalah yang akan dibahas yaitu :
1. Bagaimana Sistem Akuntansi Penerimaan Kas Pada PT. xxx.
2. Bagaimana Sistem Akuntansi Pengeluaran Kas Pada PT. xxx.

1.3 TUJUAN PENELITIAN
Untuk dapat melaksanakan penelitian dengan baik, maka peneliti harus mempunyai tujuan. Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk Mengetahui Sistem Akuntansi Penerimaan Kas pada PT. xxx.
2. Untuk Mengetahui Sistem Akuntansi Pengeluaran Kas pada PT. xxx.

1.4 MANFAAT PENELITIAN
Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:
a. Manfaat Teoritis
1. Bagi Peneliti
Untuk mendapatkan pengalaman atau pengetahuan dalam melakukan penelitian dan melatih diri dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang sudah diperoleh.

2. Bagi Akademik
Untuk menambah informasi sumbangan pemikiran dan bahan kajian dalam penelitian khususnya yang akan menyusun skripsi yang ada kaitannya dengan sistem akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas.

3. Bagi Peneliti Berikutnya
Memberikan informasi bagi pengembangan penelitian selanjutnya.

b. Manfaat Praktis
Sebagai bahan masukan atau bahan pertimbangan bagi perusahaan khususnya dalam merancang Sistem Akuntansi Penerimaan dan pengeluaran Kas pada PT. xxx.


1.5 SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan skripsi merupakan garis besar penyusunan yang bertujuan memudahkan jalan pikiran dalam memahami secara keseluruhan isi skripsi.
Sistematikanya sebagai berikut :

a. Bagian Pengantar Sripsi, meliputi : halaman judul skripsi, halaman pengesahan, abstrak, kata pengantar, daftar Isi, daftar gambar, daftar lampiran.

b. Bagian Utama Skripsi, meliputi :

BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, sistematika penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI
Dalam bab ini akan diuraikan konsep-konsep yang mendukung penelitian ini sehingga dapat memecahkan masalah yang akan dibahas, antara lain : mengenai kas, pengertian sistem akuntansi, pengertian kas, sistem akuntansi penerimaan kas, sistem akuntansi pengeluaran kas, dokumen yang digunakan, catatan akuntansi, unsur pengendalian intern terhadap penerimaan dan pengeluaran kas.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini berisi tentang lokasi penelitian, obyek kajian, metode pengumpulan data, metode analisis data.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini berisi hasil penelitian pembahasan.

BAB V PENUTUP
Dalam bab ini berisi kesimpulan dan saran




BAB II
LANDASAN TEORI


2.1 Sistem Akuntansi Penerimaan Kas
2.1.1 Sistem Akuntansi.
Sistem akuntansi adalah organisasi formulir, catatan dan laporan yang dikoordinasikan sedemikian rupa untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh manajemen guna memudahkan pengelolaan perusahaan (Depdikbud, 1991:4). Sistem akuntansi terdiri atas dokumen-dokumen bukti transaksi, alat-alat pencatatan, laporan-laporan, dan prosedur-prosedur yang digunakan perusahaan untuk mencatat transaksi-transaksi serta melaporkan hasil-hasilnya (Jusuf Haryono, 2001:395).
Berdasarkan pengertian-pengertian yang diungkapkan oleh para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa sistem akuntansi adalah suatu kesatuan untuk mengumpulkan, mengorganisir, mencatat tentang berbagai transaksi perusahaan yang dapat digunakan untuk mebantu pimpinan dan manajemen di dalam menangani jalannya operasi perusahaan.

2.1.2 Pengertian Kas
Kas menurut pengertian akuntansi adalah alat pertukaran yang dapat diterima untuk pelunasan utang dan dapat diterima sebagai suatu setoran ke bank dengan jumlah sebesar nominalnya, juga simpanan dalam bank atau tempat-tempat lainnya yang dapat diambil sewaktu-waktu (Baridwan, 2000:86). Pengertian lain dari segi akuntansi, yang dimaksud dengan kas adalah sesuatu (baik yang berbentuk uang atau bukan) yang dapat tersedia dengan segera dan diterima sebagai alat pelunasan kewajiban pada nilai nominalnya (Soemarso, 1996:323).
Berdasarkan pengertian kas tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kas merupakan sesuatu yang dapat diterima sebagai alat pelunasan kewajiban pada nilai nominalnya.


2.1.3 Sistem Akuntansi Penerimaan Kas
Sistem Akuntansi Penerimaan Kas adalah suatu catatan yang dibuat untuk melaksanakan kegiatan penerimaan uang dari penjualan tunai atau dari piutag yang siap dan bebas digunakan untuk kegiatan umum perusahaan (Mulyadi, 2001:500). Sistem Akuntansi Penerimaan Kas adalah proses aliran kas yang terjadi di perusahaan adalah terus menerus sepanjang hidup perusahaan yang bersangkutan masih beroperasi. Aliran kas terdiri dari aliran kas masuk dan aliran kas keluar (Gitosudarmo, 1992:61).
Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem akuntansi penerimaan kas adalah suatu kesatuan untuk mengumpulkan, mencatat transaksi yang dapat membantu pimpinan untuk menangani penerimaan perusahaan.
Beberapa bentuk pembayaran dari langganan di dunia usaha yang dikenal antara lain :
a. Uang tunai.
b. Cek.
c. Giro bilyet.
d. Transfer lewat bank.
e. Wesel bank.
(Samsul:279).

Cara penerimaan uang dari langganan dapat dilakukan melalui cara :
1. Langganan membayar sendiri atau oleh petugasnya.
2. Harus ditagih oleh kreditur.
3. Kompensasi utang piutang.
(Samsul:282).

Penerimaan kas perusahaan berasal dari dua sumber utama yaitu penerimaan kas dari penjualan tunai dan penerimaan kas dari piutang.
a. Sistem akuntansi penerimaan kas dari penjualan tunai.
Sistem penerimaan kas dari penjualan tunai dibagi menjadi tiga prosedur Yaitu :
1. Penerimaan kas dari over-the-counter sale.
2. Prosedur peneriman kas dari cash-on delivery sale (COD sales).
3. Prosedur penerimaan dari credit card sale.

Fungsi yang terkait dalam sistem akuntansi penerimaan kas dari penjualan tunai yaitu:
1. Fungsi penjualan.
2. Fungsi kas.
3. Fungsi Gudang.
4. Fungsi Pengiriman.
5. Fungsi Akuntansi.

Dokumen yang digunakan dalam sistem akuntansi penerimaan kas yaitu:
1. Faktur penjualan tunai.
2. Pita register kas
3. Credit card sales slip
4. Bill of lading.
5. Faktur penjualan COD.
6. Bukti setor bank.
7. Rekspitulasi harga pokok penjualan.

Catatan Akuntansi Yang digunakan dalam sistem akuntansi penerimaan kas yaitu :
1. Jurnal penjualan.
2. Jurnal penerimaan kas.
3. Jurnal umum.
4. Kartu persediaan.
5. Kartu gudang.

b. Sistem Penerimaan Kas dari Piutang. Penerimaan kas dari piutang dapat dilakukan melalui :
1. Melalui Penagih Perusahaan
2. Melalui Pos.
3. Melalui Lock-Box-Collection Plan.
(Mulyadi, 2001:456-482).

Dalam penelitian yang akan dibahas dalam tugas akhir ini yang akan penulis bahas adalah hanya penerimaan kas yang berasal dari piutang. Menurut sistem pengendalian intern yang baik, semua penerimaan kas dari debitur harus dalam bentuk cek atas nama atau giro bilyet.
1. Penerimaan kas dari piutang melalui penagih perusahaan dilaksanakan dengan prosedur berikut ini :
a. Bagian piutang memberikan daftar piutang yang sudah saatnya ditagih kepada penagih.
b. Bagian penagihan mengirimkan penagih yang merupakan karyawan perusahaan untuk melakukan penagihan ke debitur.
c. Bagian penagihan menerima cek atas nama dan surat pemberitahuan dari debitur.
d. Bagian penagihan menyerahkan cek ke bagian kasa.
e.Bagian penagihan menyerahkan surat pemberitahuan kepada bagian piutang untuk kepentingan posting ke dalam kartu piutang.
f. Bagian kasa mengirim kwitansi sebagai tanda penerimaan kas kepada debitur.
g.Bagian kasa menyetorkan cek ke bank, setelah cek tersebut dilakukan endorsment oleh pejabat yang berwenang.
h. Bank perusahaan melakukan clearing atas cek tersebut ke bank debitur.

2. Penerimaan Kas dari Piutang Melalui Pos dilaksanakan dengan prosedur sebagai erikut :
a. Bagian pengiriman mengirim faktur penjualan kredit kepada debitur pada saat ransaksi penjualan kredit terjadi.
b. Debitur mengirim cek atas nama yang dilampiri surat pemberitahuan melalui pos.
c. Bagian sekretariat menerima cek atas nama dan surat pemberitahuan dari debitur.
d. Bagian sekretariat menyerahkan cek kepada bagian kasa.
e. Bagian sekretariat menyerahkan surat pemberitahuan kepada bagian piutang untuk kepentingan posting ke dalam kartu piutang.
f. Bagian kasa mengirim kuitansi kepada debitur sebagai tanda terima pembayaran dari debitur.

g. Bagian kasa menyetorkan cek ke bank, setelah cek atas nama tersebut dilakukan endorsemen oleh pejabat yang berwenang.
h. Bank perusahaan melakukan clearing atas cek tersebut ke bank debitur.

3. Penerimaan Kas Melalui Lock-Box-Collection Plan dilaksanakan dengan prosedur sebagai berikut :
a. Bagian penagihan mengirim faktur penjualan kredit kepada debitur pada saat transaksi terjadi.
b. Debitur melakukan pembayaran utangnya pada saat faktur jatuh tempo engan mengirimkan cek dan surat pemberitahuan ke PO BOX di kota terdekat.
c. Bank membuka PO BOX dan mengumpulkan cek dan surat pemberitahuan yang diterima oleh perusahaan.
d. Bank membuat daftar surat pemberitahuan. Dokumen ini dilampiri dengan surat pemberitahuan dikirimkan oleh bank ke bagian sekretariat.
e. Bank mengurus check clearing.
f. Bagian sekretariat menyerahkan surat pemberitahuan kepada bagian piutang untuk mengkredit rekening pembantu piutang debitur yang bersangkutan.
g. Bagian sekretariat menyerahkan daftar surat pemberitahuan ke bagian kasa.
h. Bagian kasa menyerahkan daftar surat pemberitahuan ke bagian jurnal untuk mencatat di dalam jurnal penerimaan kas.
(Mulyadi, 2001:493-498).

Prosedur penerimaan uang melibatkan beberapa bagian dalam perusahaan agar transaksi penerimaan uang tidak terpusat pada satu bagian saja. Hal ini perlu agar pengendalian intern dapat dilaksanakan dengan baik.
Fungsi atau unit kerja yang tekait dalam penerimaan kas dari piutang antara lain :
1. Fungsi Sekretariat.
Bertanggung jawab menerima cek dan surat pemberitahuan dari debitur. Fungsi ini juga bertugas membuat daftar surat pemberitahuan atas dasar surat pemberitahuan yang diterima bersama cek dari para debitur.



2. Fungsi Penagihan.
Bertanggung jawab melakukan penagihan langsung kepada debitur melalui penagih perusahaan, berdasarkan daftar piutang yang dibuat oleh fungsi akuntansi.
3. Fungsi Kas.
Bertanggung jawab atas penerimaan cek dari fungsi sekretariat atau dari fungsi penagihan.
4. Fungsi Akuntansi.
Bertanggung jawab dalam pencatatan penerimaan kas.
5. Fungsi Pemeriksa Intern.
Bertanggung jawab atas perhitungan uang kas yang ada di tangan fungsi kas secara periodik (Mulyadi, 2001:487). Pendapat lain mengenai fungsi dalam penerimaan kas adalah
Fungsi yang terkait dalam penerimaan kas dari piutang yaitu :
1. Fungsi Bagian Piutang
Fungsi ini bertugas membuat catatan piutang, menyiapkan dan mengirimkan surat pernyataan piutang, dan membuat daftar analisa umur piutang setiap periode.
2. Bagian Surat Masuk.
Bagian surat masuk bertugas menerima surat yang diterima perusahaan. Surat-surat yang berisi pelunasan piutang harus dipisahkan dari surat-surat lainnya. Setiap hari bagian surat masuk membuat daftar penerimaan uang harian, mengumpulkan cek dan remittance advice. Setelah daftar penerimaan uang harian selesai dikerjakan oleh bagian surat masuk maka daftar tesebut didistribusikan sebagai berikut :
Satu lembar dengan cek diserahkan pada kasir, satu lembar bersama dengan remittance advice diserahkan ke bagian akuntansi.
3. Fungsi Kasir.
Fungsi kasir bertugas menerima uang yang berasal dari bagian surat masuk, pembayaran langsung atau dari penjualan oleh salesman. Setiap hari membuat bukti setor ke bank dan menyetorkan semua uang yang diterimanya. Menyetorkan bukti setor bank ke bagian akuntansi.
4. Fungsi akuntansi
Menerima bukti setor dari bagian kasa.
(Baridwan, 1998:157).


Berdasarkan dua teori tersebut dapat dilihat bahwa teori dari Mulyadi lebih lengkap. Dalam penelitin ini penulis akan menggunakan teori dari Mulyadi karena lebih sesuai dengan keadaan PT. xxx.

Dokumen yang Digunakan dalan Sistem Penerimaan Kas
1. Surat Pemberitahuan.
Dokumen ini dibuat oleh debitur untuk memberitahu maksud pembayaran yang dilakukan. Biasanya berupa tembusan bukti kas keluar yang dibuat oleh debitur. Oleh perusahaan dokumen ini dijadikan dokumen sumber dalam pencatatan berkurangnya piutang.
2. Daftar Surat Pemberitahuan.
Merupakan rekapitulasi penerimaan kas yang dibuat fungsi sekretariat atau fugsi penagihan.
3. Bukti Setor Bank.
Dokumen ini dibuat fungsi kas sebagai bukti penyetoran ke bank. Dokumen ini dibuat rangkap 3.
4. Kuitansi.
Merupakan bukti penerimaan kas yang dibuat oleh perusahaan bagi para debitur yang telah melakukan pambayaran utang mereka (Mulyadi, 2001:488).

Menurut Baridwan (1998:160), fungsi yang terkait dalam sistem penerimaan kas yaitu :
1. Pemberitahuan tentang pelunasan dari langganan (remittance advice) atau amplopnya.
2. Bukti penerimaan uang yang diberi nomor urut tercetak yang dibuat oleh kasir untuk penerimaan uang langsung.
3. Pemberitahuan tentang pelunasan, daftar penjualan salesman, dan lain-lain.
4. Pemberitahuan dari bank tentang pinjaman, penagihan oleh bank,dan lain-lain.
5. Bukti setor bank



Dari kedua teori tersebut teori dari Mulyadi lebih sesuai dengan keadaan PT. xxx.
Catatan Akuntansi yang Digunakan Untuk Mencatat Transaksi Yang Menyangkut Piutang Yaitu :
1. Jurnal Penjualan.
Digunakan untuk mencatat timbulnya piutang dari transaksi penjualan kredit.
2. Jurnal Retur Penjualan.
Digunakan untuk mencatat berkurangnya piutang dari transaksi retur penjualan.
3. Jurnal Umum.
Digunakan untuk mencatat berkurangnya piutang dari transaksi penghapusan piutang yang tidak lagi ditagih.
4. Jurnal Penerimaan Kas.
Digunakan untuk mencatat berkurangnya piutang dari transaksi penerimaan kas dari debitur.
5. Kartu Piutang.
Digunakan untuk mencatat mutasi dan saldo piutang kepada setiap debitur.
(Mulyadi, 2001:260).

Pengendalian Intern Tehadap Penerimaan Kas.
a. Organisasi.
1. Fungsi akuntansi harus terpisah dari fungsi penagihan.
2. Fungsi penerimaan kas harus terpisah dari fungsi akuntansi.

b. Sistem Otorisasi dan Prosedur Pencatatan.
1. Debitur diminta untuk melakukan pembayaran dalam bentuk cek atas nama atau dengan cara pemindah bukuan.
2. Fungsi penagihan melakukan penagihan hanya atas dasar daftar piutang yang harus ditagih yang dibuat oleh fungsi akuntansi.
3. Pengkreditan rekening pembantu piutang oleh fungsi akuntansi (Bagian Piutang) harus didasarkan atas surat pemberitahuan yang berasal dari debitur.



c. Praktek Yang Sehat.
1. Hasil perhitungan kas harus direkam dalam berita acara perhitungan kas dan disetor penuh ke bank dengan segera.
2. Para penagih dan kasir harus diasuransikan.
3. Kas dalam perjalanan harus diasuransikan.
(Mulyadi, 2001:488-492).


2.2 Sistem Akuntansi Pengeluaran Kas
Sistem Akuntansi Pengeluaran Kas adalah suatu catatan yang dibuat untuk melaksanakan kegiatan pengeluaran baik dengan cek maupun dengan uang tunai yang digunakan untuk kegiatan umum perusahaan (Mulyadi, 2001:543). Menurut Depdiknas Sistem Akuntansi Pengeluaran Kas adalah suatu proses, cara, perbuatan mengeluarkan alat pertukaran yang diterima untuk pelunasan utang dan dapat diterima sebagai suatu setoran ke bank dengan jumlah sebesar nominalnya, juga simpanan dalam bank atau tempat-tempat lainnya yang dapat diambil sewaktu-waktu. (Depdiknas, 2003:535).
Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan Sistem Akuntansi Pengeluaran Kas adalah suatu proses yang dilaksanakan untuk melaksanakan pengeluaran kas baik dengan cek maupun uang tunai untuk kegiatan perusahaan. Sistem Akuntansi pokok yang digunakan untuk melaksanakan pengeluaran kas yaitu sistem akuntansi pengeluaran kas dengan cek dan sistem akuntansi pengeluaran kas dengan melalui dana kas kecil.
1. Sistem Akuntansi Pengeluaran Kas dengan Cek
Fungsi Yang Terkait dalam sistem akuntansi pengeluaran kas yaitu :
a. Fungsi Hutang.
Fungsi ini menerima dokumen-dokumen dari bagian lain yang nantinya akan digunakan sebagai dokumen pendukung bukti pengeluaran uang dan menyiapkan bukti pengeluaran uang.

b. Fungsi Kasir.
Fungsi ini menerima bukti pengeluaran uang dari bagian utang, menuliskan besarnya uang yang harus dikeluarkan dalam cek dan memintakan tandatangannya kepada pejabat yang berwenang, serta memberikan cek kepada pihak yang namanya tercantum dalam cek.

c. Fungsi Akuntansi.
Bagian akuntansi yang terkait dalam pengeluaran uang ini adalah bagian kartu persediaan dan kartu biaya serta bagian buku jurnal, buku besar dan pelaporan. Tugasnya yaitu menerima dari bagian utang lembar pertama bukti pengeluaran kas beserta bukti-bukti pendukung. Selain itu menyimpan bukti-bukti pengeluaran uang beserta bukti-bukti pendukung ke dalam suatu file yang disebut dengan file bukti pengeluaran uang yang telah dibayar. Dalam menyimpan bukti-bukti pengeluaran uang ini, sebelumnya diurutkan menurut urutan nomor urut bukti pengeluaran uang.

d. Bagian Pengawasan Intern.
Bagian ini bertugas memverifikasi pengeluaran-pengeluaran uang ini, termasuk mengecek penanggungjawab dari pejabat-pejabat yang berwenang atas dan selama proses pengeluaran uang tersebut
(Nurchamid, 1989:314-315).

Sedangkan menurut Baridwan (1998:187) fungsi yang terkait dalam sistem pengeluaran kas yaitu :
a. Bagian Utang.
Bagian ini bertugas membandingkan faktur pembelian dengan laporan penerimaan barang. Faktur pembelian yang dilampiri dengan laporan penerimaan barang
b. Bagian pengeluaran uang, berfungsi :
1. Memeriksa bukti-bukti pendukung faktur pembelian atau voucher untuk memastikan bahwa dokumen-dokumen tersebut sudah cocok dan perhitungannya benar serta disetujui oleh orang-orang yang ditunjuk.
2. Menandatangani cek.
3. Mengecap “lunas” pada bukti-bukti pendukung pengeluaran kas atau melubanginya dengan perforator.
4. Mencatat cek ke dalam daftar cek (check register). Check register dapat juga dikerjakan di bagian akuntansi.

5. Menyerahkan cek kepada kreditur (orang yang dibayar).

c. Bagian Internal Auditing
Dalam hubungannya dengan prosedur utang dan pengeluaran kas, bagian internal auditing bertugas untuk memeriksa buku pembantu utang , mencocokkan dengan jurnal pembelian dan pengeluaran uang.
Berdasarkan kedua pendapat tersebut penulis akan menggunakan teori dari Nurchamid karena lebih sesuai dengan keadaan yang ada pada perusahaan.

Dokumen yang digunakan dalam sistem pengeluaran kas
a. Dokumen pelengkap pengadaan dan penerimaan barang/jasa.
Dokumen ini merupakan dokumen yang digunakan untuk mendukung permintaan pengeluaran kas.
b. Cek
Dari sudut sistem informasi akuntansi cek merupakan dokumen yang digunakan untuk memerintahkan melakukan pembayaran sejumlah uang kepada orang atau organisasi yang namanya tercantum dalam cek.
c. Voucher
Dokumen ini sebagai permintaan dari yang memerlukan pengeluaran kepada fungsi akuntansi untuk membuat kas keluar.

Catatan Akuntansi Yang digunakan dalam Sistem akuntansi pengeluaran kas
a. Jurnal Pengeluaran Kas.
Digunakan untuk mencatat pengeluaran kas.
b. Register Cek.
Register cek digunakan untuk mencatat cek-cek perusahaan yang dikeluarkan untuk pembayaran kreditur atau pihak lain.
(Mulyadi, 1993:515). Catatan akuntansi yang digunakan dalam pegeluaran kas yaitu :
a. Buku pembantu utang
b. Buku jurnal pembelian
c. Buku jurnal pengeluaran uang
d. Remittance advice
(Baridwan, 1998:189).
Berdasarkan kedua teori tersebut, teori dari Mulyadi lebih sesuai dengan PT. xxx.
Pengendalian Intern Pengeluaran Kas.
a. Kebijakan-kebijakan dan prosedur mengenai pemindahan dana harus ditetapkan.
b. Semua pengeluaran harus didukung dengan bukti yang cukup dan disetujui oleh pejabat yang berwenang.
c. Faktur pelanggan atau bukti penerimaan harus diberi tanda untuk mencegah penggunaan kembali.
d. Pembayaran sedapat mungkin harus dilakukan dengan cek.
e. Pengendalian yang ketat atas kontrol tanda tangan harus dilakukan.
f. Tugas-tugas yang berhubungan dengan pengeluaran kas harus dilaksanakan secara terpisah sepanjang dapat dipraktekkan.
g. Cek harus dilindungi dari usaha penyalah gunaan.
h. Pembayaran kas dalam jumlah kecil harus dilakukan kas kecil yang dioperasikan dengan mempergunakan sistem imprest.
i. Pengeluaran melalui kas kecil harus dilakukan untuk tujuan yang telah ditentukan dan didukung dengan bukti –bukti yang cukup.
1. Pembayaran hanya terbatas untuk pembelian barang atau jasa yang telah dipesan, diterima dan disahkan pembayarannya.
2. Dari sudut pengendalian fungsi pembayaran dibagi dalam tiga tahap yaitu:
a. Pembuatan Cek
Pembuatan cek untuk pembayaran baru dilakukan setelah mendapat otorisasi pembayaran yang didukung oleh bukti transaksi yang telah disahkan oleh pejabat perusahaan yang berwenang.
b. Penandatanganan cek.
Penandatanganan cek harus memperhatikan beberapa hal antara lain : (1) Pejabat yang berwenang menandatangani cek harus terpisah dari fungsi pengurusan cek. (2) Cek baru ditandatangani setelah diisi secara lengkap. (3) Bukti-bukti yang mendukung pembayaran harus diserahkan supaya bisa diteliti lagi. (4) Pejabat yang berwenang untuk menandatangani cek sebaiknya memiliki pengetahuan luas tentang sifat usahanya, sehingga pembayaran yang tidak biasa, bisa segera diteliti lebih lanjut.

c. Pengiriman cek yang telah ditandatangani.
Pengiriman cek yang telah ditandatangani harus diawasi dengan tujuan untuk memperoleh kepastian cek tersebut betul-betul untuk pembayaran pada pihak ketiga dan bukan pembayaran yang fiktif (Tunggal , 1995:81-82).

Bagan Alir Sistem Akuntansi Pengeluaran Kas meliputi sebagai berikut :
1. Bagan alir tugas bagian utang.
2. Bagan alir tugas bagian keuangan (Kasir).
3. Bagan alir tugas bagian akuntansi.


2. Sistem Dana Kas Kecil
Dana Kas Kecil adalah uang kas yang disediakan untuk membayar pengeluaran – pengeluaran yang jumlahnya relatif kecil dan tidak ekonomis bila dibayar dengan cek (Baridwan, 2000:88). Dana kas kecil adalah dana yang digunakan untuk pembayaran-pembayaran dalam jumlah kecil (Widjajanto, 2001:484).
Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa Kas Kecil adalah uang yang disediakan untuk pengeluaran yang sifatnya kecil.
Sistem dana kas kecil dapat diselenggarakan dengan dua metode yaitu : Sistem Saldo Berfluktuasi (fluctuating-fund-balance system) dan Imprest Sistem.
Dokumen Yang Digunakan Dalam Sistem Dana Kas Kecil yaitu :
1. Bukti Kas Keluar.
2. Cek
3. Permintaan Pengeluaran Kas Kecil.
4. Bukti Pengeluaran Kas Kecil.
5. Permintaan Pengisian Kembali Dana Kas kecil
Catatan Akuntansi Yang Digunakan Dalam Sistem Dana Kas Kecil.
1. Jurnal Pegeluaran Kas.
Dalam sistem dana kas kecil, catatan akuntansi ini digunakan untuk mencatat pengeluaran kas dalam pembentukan dana kas kecil dan dalam pengisian kembali dana kas kecil.


2. Register Cek.
Dalam sistem dana kas kecil catatan akuntansi ini digunakan untuk mencatat cek perusahaan yang dikeluarkan untuk pembentukan dan pengisian kembali dana kas kecil.
3. Jurnal Pengeluaran Dana Kas Kecil.
Untuk mencatat transaksi pengeluaran dana kas kecil diperlukan jurnal khusus. Jurnal ini sekaligus berfungsi sebagai alat distribusi pendebetan yang timbul sebagai akibat pengeluaran dana kas kecil.
Fungsi Yang Terkait dalam Sistem Dana Kas Kecil.
1. Fungsi Kas
Fungsi ini bertanggung jawab dalam mengisi cek, memintakan otorisasi atas cek, dan menyerahkan cek kepada pemegang dana kas kecil pada saat pembentukan dana kas kecil pada saat pengisian kembali dana kas kecil.
2. Fungsi Akuntansi.
Dalam sistem dana kas kecil fungsi akuntansi bertanggung jawab atas : Pencatatan pengeluaran kas kecil yang menyangkut biaya dan persediaan, pencatatan transaksi pembentukan dana kas kecil, pencatatan pengisian kembali dana kas kecil dalam jurnal pengeluaran kas atau register cek, pencatatan pengeluaran dana kas kecil dalam jurnal pengeluaran dana kas kecil (dalam fluctuating-fund-balance system), pembuatan bukti kas keluar yang memberikan otorisasi kepada fungsi kas dalam mengeluarkan cek.
3. Fungsi Pemegang Dana Kas Kecil.
Fungsi ini bertanggung jawab atas penyimpanan dana kas kecil, pengeluaran dana kas kecil sesuai dengan otorisasi dari pejabat tertentu yang ditunjuk, dan permintaan pengisian kembali dana kas kecil.
4. Fungsi Pemeriksa Intern.
Fungsi ini bertanggung jawab atas penghitungan dana kas kecil secara periodik dan pencocokan hasil penghitungannya dengan catatan akuntansi.
(Mulyadi, 1993:532-537).






2.3 KERANGKA PEMIKIRAN
Sistem Akuntansi terdiri dari penerimaan kas dan pengeluaran kas. Penerimaan kas berasal pelunasan piutang dari debitur yang telah memakai jasa PT. xxx. Selain itu juga berasal dari pendapatan sewa peralatan dan pendapatan bunga yang merupakan pendapatan di luar usaha. Dalam penerimaan kas meliputi prosedur penerimaan kas, fungsi yang terkait, dokumen, catatan akuntansi serta penngedalian intern. Sedangkan pengeluaran kas digunakan untuk pembayaran utang, biaya operasional, dan pengeluaran lain-lain. Dalam sistem pengeluaran terdiri dari prosedur pengeluaran kas, Fungsi yang terkait, dokumen, catatan akuntansi, serta pengendalian intern. Dengan adanya sistem akuntansi penerimaan dan pengeluaran yang baik dan benar maka perusahaan akan bekerja lebih efisien.




Gambar 1 : Kerangka Pemikiran



BAB III
METODE PENELITIAN



Agar penelitian ini bisa tercapai maka diperlukan metode-metode tertentu dalam memperoleh data.
3.1 Lokasi Penelitian
Dalam kajian ini penelitian dilakukan di PT xxx yang beralamat di Jl. Benda Prapatan Embeh Cikiwul Pkl 2 No. 39 Bantar Gebang – Bekasi Jawa Barat.

3.2 Objek Kajian
1. Prosedur penerimaan dan pengeluaran kas.
2. Fungsi yang terkait dalam sistem penerimaan dan pengeluaran kas.
3. Dokumen yang digunakan dalam sistem penerimaan dan pengeluaran kas.
4. Catatan akuntansi yang digunakan dalam sistem penerimaan dan pengeluaran kas.
5. Unsur pengendalian intern penerimaan dan pengeluaran kas.

3.3 Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam kajian ini digunakan berbagai metode pengumpulan data sebagai berikut :
3.3.1 Metode Observasi
Metode observasi yaitu pengamatan secara langsung ke objek penelitian (Arikunto, 1996:146). Peneliti melakukan pengamatan langsung ke PT. xxx.
3.3.2 Metode Wawancara
Wawancara adalah mengajukan pertanyaan kepada terwawancara (Arikunto, 1996:145). Dalam hal ini peneliti mengajukan sejumlah pertanyaan kepada pihak PT xxx mengenai hal-hal yang berhubungan dengan penerimaan dan pengeluaran kas.

3.3.3 Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger agenda dss (Arikunto, 1997:236). Dalam hal ini peneliti mempelajari profil perusahaan untuk mengetahui sejarah berdirinya perusahaan, bidang usaha, serta mempelajari dokumen atau bukti transaksi yang digunakan dalam penerimaan maupun pengeluaran kas pada PT. xxx.

3.4 Analisis data
Analisis data adalah cara-cara mengolah data yang terkumpul untuk kemudian dapat memberikan interpretasi dalam pengelolaan data ini yang digunakan untuk menjawab masalah yang dirumuskan.
Data-data yang diperoleh akan dianalisis dengan analisis deskriptif yaitu suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran yang bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat serta hubungan antar fenomena yang diteliti (Nazir, 1983:63).


DAFTAR PUSTAKA


Al. Haryono Yusuf. 1999 Pengantar Akuntansi. Jakarta:Salemba Empat.

Arikunto, Suharsimi.1996 Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:Rineka Cipta.

Baridwan, Zaki. 2000 Intermediate Accounting.Yogyakarta:BPFE.

____________. 1998 Sistem Akuntansi Penyusunan Prosedur dan Metode. Yogyakarta:BPFE.

Depdikbud. 1991 Sistem Akuntansi. Jakarta:Salemba Empat.

Mulyadi. 1993 Sistem Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat.

_______. 2001 Sistem Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat.

Nazir,M. 1983 Metode penelitian. Jakrta: Ghalia Indonesia.

Nurchamid, Tafsir. 1989 Sistem Akuntansi II. Jakarta Karunika.

Soemarso, S.R. 1999 Akuntansi Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta.

Tunggal, A.W. 1995 Struktur Pengendalian Intern. Jakarta: Rineka Cipta.

Widjajanto Nugroho. 2001 Sistem Informasi Akuntansi. Jakarta: Erlangga.

journal.uii.ac.id/index.php/Snati/article/view/1472/1253

4 komentar:

  1. Menurut saya di atas merupakan jenis penelitian riset deskriptif studi kelanjutan, karena penelitian tersebut dilakukan melanjutkan penelitian yang sudah ada dengan langkah sebagai berikut :
    1. Mengidentifikasi adanya permasalahan
    2. Membatasi dan merumuskan permasalahan secara jelas
    3. Menentukan tujuan dan manfaat penelitian
    4. Melakukan studi pustaka yang berkaitan dengan permasalahan penelitian
    5. Menentukan kerangka berfikir, dan pertanyaan penelitian dan atau hipotesis penelitian
    6. Mendesain metode penelitian yamg hendak di gunakan, termasuk dalam hal ini
    menentukan populasi, sampel, teknik sampling, menentukan instrumen pengumpul data, dan
    menganalisis data
    7. Mengumpulkan dan mengorganisasi serta menganalisis data dengan menggunakan
    teknik statistika yang relevan
    8. Membuat laporan penelitian

    BalasHapus
  2. Menurut saya penelitian ini termasuk jenis riset survei karena penelitian yang diadakan untuk memproleh fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan secara faktual.
    Kelemahan Penelitian :
    1.Maksud penelitian harus didefinisikan secara jelas.
    2.Prosedur penelitian harus diuraikan secara rinci agar memungkinkan peneliti yang lain dapat mengulangi penelitian tersebut
    3.Desain dari prosedur penelitian harus direncanakan secara seksama untuk memberikan hasil yang seobjektif mungkin. Bilamana dilakukan pengambilan sampel dari populasi, laporan ini harus mencakup bukti-bukti mengenai sejauh mana sampel ini dapat mewakili yang bersangkutan.
    4.Analisis data tidak cukup memadai untuk mengungkapkan hasil dari penelitian yang dimana kreteria ini sering kali menjadi alat ukur untuk melihat kemampuan peneliti.
    5.Kesimpulan-kesimpulan tidak dibatasi pada hal-hal yang akan ditunjang oleh data penelitian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa bantu saya ? tolong gambar ny d prjelas . makasih

      Hapus
  3. MANA GAMBAR PEMIKIRAN NY ADMIN? BISAKAN SAYA MELIHAT GAMBAR NYA ? MAKASIH

    BalasHapus